Histats

Minggu, 28 Januari 2024

Jurnal oleh, dari dan untuk diri kita

 Hai Adi di sini ! 

Terkadang sulit untuk menatap matahari pagi bukan? terutama ketika tubuh dan pikiran rasanya sangat berat untuk dipaksakan melanjutkan apa yang dinamakan dengan hidup. Tidak apa - apa, jika hari ini kita merasa tidak baik - baik saja. Tidak apa - apa jika kita hanya ingin berdiam diri, tidak melakukan apapun. Namun, jangan lupa untuk makan dan minum ya teman. 

Hidup, menghadapi dan menjalaninya kadangkala memang tidak semudah kita menarik napas dan menghembuskannya. Hidup lebih rumit dari sekedar membuka dan menutup mata. Sebagai manusia, kita terdiri dari tubuh fisik, jiwa dan roh. Tubuh fisik kita adalah bagian yang dapat merasakan sakit dan itu mudah untuk dideteksi. Kita tahu kita memiliki roh, ketika kita masih bisa bernafas. Yang paling rumit untuk dihadapi adalah jiwa kita. Seringkali kita tidak bisa mendeteksi bahwa jiwa kita sedang mengalami banyak masalah dan sedang terganggu. Di dalam jiwa kitalah terkandung situasi mental atau psikis, suatu bagian penting yang mungkin sering kita abaikan peranannya dan betapa pentingnya kita untuk menjaganya tetap stabil. Kondisi mental digambarkan dengan emosi, perasaan, pemikiran, harapan, keinginan, mimpi, suasana hati, kehendak dan berbagai hal lain yang sepertinya tidak terlihat namun sesungguhnya mengambil peran yang sangat penting mempengaruhi tubuh kita secara fisik. Kondisi mental yang tidak stabil dan terganggu, akan diperparah dengan keadaan dimana kita tidak memiliki siapapun untuk berbagi, hidup di zaman modern terkadang membuat orang memiliki kebiasaan individualis, teknologi yang ada menjadi sarana komunikasi yang pada dasarnya mengurangi atau membatasi betapa pentingnya hubungan secara emosional, memaksa kita bahkan hanya bisa terkoneksi dengan seseorang terlebih keluarga atau teman hanya melalui teknologi. Padahal, kita sebagai makhluk sosial, tetap membutuhkan seseorang secara fisik berada di sisi kita untuk bercerita, berbagi atau bahkan hanya sekedar untuk melihat bahwa ada jiwa lain di depan mata kita yang bernafas dan sedang memperhatikan kita.

Saya mungkin contohnya, hari ini, badan saya merasa lelah, saya berpikir untuk tidak ingin melakukan apapun, ingin berdiam diri saja, tidak ingin memikirkan apapun, tidak ada ide dan sepertinya energi saya terkuras habis padahal saya kemarin tidak melakukan apapun yang menggunakan tenaga fisik berlebihan. Namun, hari ini itulah kondisi yang saya rasakan. Kelelahan karena mental saya diserang dengan berbagai macam pikiran yang berperang di dalam otak saya. Perasaan yang kadang sulit untuk diungkapkan dengan kata - kata. Dan bagaimana bisa menemukan diri saya lagi? Tidak baik bagi tubuh saya jika saya seperti ini bukan? Saya ingin melewatkannya dengan berdiam diri, tetapi saya tahu dan masih sadar bahwa itu tidak bisa mengubah apapun. Energi saya tidak akan terkumpul kembali hanya dengan berdiam diri. Serangan yang terjadi pada mental kita, terkadang adalah suatu kondisi yang lebih parah daripada suatu jenis penyakit yang menyerang tubuh secara fisik. Jika kita mencoba mencari  tahu melalui berbagai literatur, atau buku atau sumber yang berbicara mengenai kesehatan, betapa kesehatan mental itu sangat penting untuk dijaga. 

Lalu, apa yang sebaiknya saya lakukan dalam kondisi seperti ini? Saya mencoba memberanikan diri mencari tahu, saya meng-googling  kira - kira apa hal baik yang bisa saya gunakan untuk mengatasi atau menghadapi situasi seperti ini setiap kali saya diperhadapkan kepadanya. Saya dianjurkan untuk menulis. Menulis jurnal atau catatan harian. Menulis suatu jurnal bukan hanya tentang menceritakan pengalaman atau aktivitas sehari - hari, atau hanya sekedar menulis apa yang ingin kita tulis. Kegiatan menulis jurnal ini memiliki manfaat yang berfungsi sebagai terapi sederhana dan praktis, murah dan mudah dilakukan. Terapi mental yang kita lakukan untuk diri kita sendiri yang dapat membantu kita untuk mampu memindahkan setiap emosi negatif yang kita sedang rasakan atau alami menjadi hal - hal yang lebih positif dan berarti. Sebuah artikel yang menjadi acuan saya  (akan saya share link nya di akhir blog hari ini, agar teman bisa ikut membacanya) mengatakan bahwa menulis tentang perasaan bisa meningkatkan suasana hati dan memberikan rasa tenang. Kita jadi bisa berpikir secara teratur dan membuat beban terasa lebih ringan. Sesuatu yang tidak ada salahnya jika kita coba bukan? 

Menulis jurnal membutuhkan kejujuran, tanpa perlu merasa takut untuk dihakimi oleh siapapun, terlebih dengan pikiran dan perasaan bahwa diri kita tidak akan berbalik untuk menghakimi diri kita bukan? Menunjukkan sisi rapuh dan lemah dari diri kita adalah sebuah bentuk kejujuran yang perlu kita tuangkan di dalam jurnal kita. Karena itu akan mengantarkan kita untuk menganalisa apa sebenarnya yang sedang terjadi pada kita dan tanpa kita sadari hal ini dapat menolong kita untuk memusatkan perhatian pada kelemahan itu kemudian mencari usaha untuk memberinya solusi. Menulis jurnal, jangan dilakukan sekali dua kali, tetapi akan sangat baik untuk dilakukan setiap hari ketika memiliki kesempatan, agar dapat melihat perkembangan dan kemajuan yang terjadi. Fakta - fakta yang digambarkan oleh pikiran dan perasaan kita secara jujur yang telah tertuang di dalam jurnal, akan mudah kita lihat satu persatu dan bukan tidak mungkin kita akan mencari tahu bagaimana memperbaikinya dan bangkit menjadi seseorang yang lebih kuat, lebih hidup dan berkualitas. Kita bisa dan kita mampu. Tidak perlu merasa malu dengan diri sendiri, takut untuk mengatakan kejujuran tentang diri kita, kita harus menerima diri kita apapun yang telah dilakukannya atau sedang terjadi padanya. Karena, sometimes, in the end of the day, hanya diri kita yang mampu menolong diri kita. Musuh terbesar kita pada dasarnya bukanlah orang lain atau lingkungan di luar kita, itu adalah diri kita sendiri. Terkadang mengalahkan diri kita membutuhkan effort atau usaha yang mati - matian. Namun suatu hal yang sangat penting untuk dapat mengalahkan ego atau mengendalikan diri kita. Dan untuk menunjukkan bahwa kita masih terus melangkah, kita harus melakukannya. 

Satu hal yang saya tandai dalam artikel tentang jurnal harian yang saya baca adalah, penting untuk menulis jurnal itu dengan tangan. Berarti bukan mengetiknya tetapi menulis dengan pulpen di atas sebuah buku khusus. Salah satu manfaatnya adalah bahwa itu akan membuat kita lebih terpusat, lebih fokus, dan sadar atau tidak akan perlahan - lahan mengurangi tekanan mental yang kita rasakan. Banyak manfaat lainnya yang akan diperoleh dan saya yakin teman akan menemukannya baik di dalam link yang nantinya akan saya bagikan bahkan ketika teman mulai menulis dan membuktikannya sendiri. Saya juga akan membuktikannya dengan mulai merancang jurnal saya sendiri. Mungkin ada teman yang berkata bahwa bukankah blog yang saya buat ini bisa menjadi jurnal saya? Saya sepertinya membutuhkan lebih dari sekedar menulis dalam sebuah blog. Blog membuat saya terkoneksi dengan teman yang membacanya. Tetapi, diri saya, mental saya juga sepertinya membutuhkan "pelampiasan" lain yang kemungkinan besar akan bermanfaat buat diri saya secara pribadi bukan? Terutama saat keadaan hidup ini mulai semakin berat. Dan saya tidak bisa berbohong bahwa kenyataan hidup saya belakangan ini begitu berat di bagian mental atau psikis saya. 

Jadi teman, dimanapun dirimu berada membaca tulisan hari ini, ayo tidak ada salahnya kita mencoba membuat jurnal harian kita. Penasaran seperti apa rasanya dan seperti apa capaiannya nanti, saya dari sini berharap itu bisa membawa suatu perubahan yang baik buat dirimu. Mari kita mulai. Semangat, dan ketahuilah aku di sini teman. Akan siap mendengarkan sejauh mana dirimu berproses dan mencapai hidup ataupun mental yang lebih segar dan optimis. Karena itu sangat penting. Nanti kita cerita lagi. 🙇

Sumber inspirasi : Lebih Positif Dengan Mulai Menulis Jurnal

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 Hai, Adi, sahabat kamu kembali di sini.💟🙋 I'm Sorry long time not to be with you and sharing anything with you from my blog. Kind of ...